Dilema Memilih Peramban Baku antara Brave dan Firefox

Hampir semua waktu yang kuhabiskan di depan gawai kugunakan untuk membuka peramban, karena peramban adalah inti dari semua hal yang kubutuhkan sehari-hari. Dari mengetik dokumen, mengedit foto/video, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, semua dilakukan di peramban.

Namun, hal itu punya kelemahan sendiri yang cukup mengerikan. Datamu terkumpul dengan sangat sempurna yang cocok untuk dijual ke pengiklan dan sejenisnya. Meski ada yang beragumen privasi data dirimu aman karena dikumpulkan secara anonim, tapi tak ada transparansi dibaliknya, kau takkan pernah tahu bagaimana proses anonimisasinya. Dan sekalipun itu anonim, data itu masih bisa untuk dilakukan de-anonimisasi karena privasi itu bukan sekadar menyembunyikan identitas.

Maka dari itu, dari kebiasaanku yang menghabiskan banyak waktunya di peramban, aku ingin lebih menghargai dataku sendiri dengan menggunakan peramban yang lebih mengutamakan penggunanya alih-alih menjadikan penggunanya sebagai sebuah “mesin penghasil uang”. Dan pilihanku untuk jenis peramban seperti itu jatuh pada Brave dan Firefox.

Aku sudah menggunakannya dan beberapa kali menjadikan salah satu dari keduanya sebagai peramban utama. Namun, berpindah-pindah peramban itu melelahkan karena perlu impor sana-sini hingga menyetel agar sesuai dengan yang dimau.

Dan ada masalah dari internal, seperti saat aku pakai Firefox, aku seperti ingin menggunakan Brave karena dia basis Chromium yang diunggulkan di kebanyakan situs. Namun, saat aku pakai Brave, aku jadi kangen dengan fitur killer Firefox seperti Multi-container—ini gak killer banget, sih, karena Brave tengah mengembangkannya saat ini1—dan ekstensi Adaptive Tab Bar Color, serta Firefox adalah peramban yang bukan berbasis Chromium yang bisa digunakan secara masif—Safari hanya untuk pengguna Apple doang.

Namun, sebenarnya peramban yang mengutamakan privasi yang mereka tawarkan itu berdiri di atas pondasi yang lemah.

Dimulai dari Firefox, pengembang Firefox, yaitu Mozilla, 85% pendapatannya berasal dari Google2. Google membayar sekian nominal agar tetap menjadikan Google Search sebagai mesin pencari bawaan di Firefox.

Rasanya Mozilla di sini malah dijadikan sandera Google agar dia tak boleh bubar. Soalnya akan menjadi malapetaka bagi Google bila Mozilla mati, yang membuat Google tak punya pesaing dan akan terkena Hukum antimonopoli Amerika Serikat3. Rasanya cukup ironis sebuah penantang malah dibiayai oleh yang ditantangnya.

Sementara buat Brave, dia punya kasus yang berbeda yang tak kalah ironis. Jualan utama mereka adalah peramban yang punya pemblokir iklan bawaan, tapi mereka tetap menyajikan iklan mereka yang diklaim lebih privat4 secara bawaan, yah memang bisa dimatikan, sih. Namun, mau bagaimana pun, iklan tetaplah iklan dan ini jatuhnya seperti mengganti iklan yang mereka blokir dengan iklan buatan mereka sendiri. Apalagi di Brave cukup banyak bloatware yang sebenarnya tak semua orang butuh, seperti AI, kripto, VPN, dan Rewards. Dan terlebih, Brave berbasis Chromium, jadi mereka tak sepenuhnya independen.

Jadi dari semua alasan itu, aku masih bingung mau memilih peramban yang mana, karena meski berdiri di pondasi yang lemah, keduanya tetap hebat dalam masalah menjaga privasi penggunanya.

Mungkin aku akan berakhir memilih keduanya. Karena Firefox begitu mantap di laptopku yang memakai KDE Neon, tapi Firefox kurang optimal di HP Androidku karena dia gampang reload kalau ditinggal multi-tasking sebentar—setidaknya itu yang terjadi pada HP low-endku. Sebaliknya, Brave nyaman banget di HP Androidku, karena berbasis Chromium juga kali, ya, jadi dia begitu optimal, tapi sayangnya Brave kurang enak di laptop KDE Neon-ku, peramban Chromium di Linux itu seperti tak terintegrasi dengan toolkit-nya, alhasil UI peramban dan UI sistem tak terintegrasi, meski di pengaturan ada switch-nya, tapi malah nge-bug, jadi kurang enak dipandang.


Referensi

Rokhiq · · Bacotan dan Teknologi
This work is licensed under CC BY-NC-SA 4.0