AI Tidak Seharusnya untuk Curhat
Akal Imitasi (AI) adalah teknologi yang bisa dibilang sangat canggih untuk saat ini, dia bisa menulis, menggambar, mencari, atau menuruti apa pun yang kita minta (dalam batasan).
Tak heran karena sedang nge-tren banget, banyak perusahaan yang berlomba-lomba membuat model yang pintar, meski perusahaan AI sendiri terus merugi karena biaya pelatihan model dan pengoperasian AI itu tidak murah1.
AI saat ini terasa lebih dari sekadar alat, banyak orang—setidaknya orang sekitarku, orang di media sosial, atau bahkan diriku sendiri—menggunakannya untuk hal yang tidak seharusnya, salah satunya adalah mencurahkan isi hati.
Kalau berkaca dariku sendiri, aku melakukannya karena AI mau meladeniku kapan saja, (seolah-olah) mengerti diriku, dan tidak menghakimi.
Namun makin lama aku tersadar kalau ini bukan hal baik.
1. AI itu Bias
AI cenderung menyanjung penggunanya, tak peduli kau sedang sedih atau bahagia, benar atau salah, dia cenderung berada di pihakmu.
Itu terjadi karena AI tidak memiliki perasaan sungguhan, memang terasa nyata kalau AI seperti mengerti kegusaran, tapi itu memang by design, AI hanya menjalankan argumen yang ditanamkan dalam dirinya, seperti: “Bila pengguna berkata seperti ini, maka responlah dengan ini.”
Hasilnya, pengguna merasa AI mengerti dirinya, waau adakalanya responnya terasa kurang pas.
2. Tidak Baik untuk Mental
Curhat dengan AI itu mengasyikan, tapi tanpa disadari, AI menarik dirimu dari koneksi sosial yang membuatmu mengisolasi diri dari sekitar.
Bila dilanjutkan, kemampuan untuk menghadapi dinamika hubungan menjadi tumpul karena AI tidak akan pernah dengan sengaja membuat dirimu marah, kecewa, atau bahkan membuatmu bertengkar dengannya.
3. Isu Privasi
Yang krusial dari semua ini adalah privasi. Percakapanmu yang mungkin penting, rahasia, atau memalukan disimpan oleh penyedia AI yang suatu saat bisa digunakan untuk sebagai bahan melatih AI, atau sebagai bahan penelitian interaksimu dengan AI2.
Hal-hal yang manis pasti menyimpan racun di baliknya. Daripada curhat dengan AI, sebaiknya sentuh rumput dan mencari seseorang untuk diajak mengobrol.
Balik lagi, AI hanyalah alat bantu yang digunakan memudahkan tugas, bukan untuk menyelesaikan urusan emosional.
Memang pasti adakalanya ditertawakan, diejek, atau dijauhi atas apa yang terucap, tapi itu semua hal yang jauh lebih baik.